Vladimir Putin Seorang Narsis?

Oleh: Joseph Burgo
15 April 2014
Sumber: The Atlantic

Bagaimana psikologi narsisme menyodorkan wawasan tentang pemimpin Rusia.

Vladimir Putin
(Kredit: Alexander Zemlianichenko/AP)

Di antara banyak politisi dunia yang rutin dipanggil narsis, Vladimir Putin mungkin paling sering diberi cap tersebut, dan dengan maksud paling serius, terutama sejak Olimpiade Sochi dan invasi Rusia atas Crimea. Dalam sebuah segmen terbaru di PBC NewsHour, sebagai contoh, kolumnis New York Times David Brooks menyatakan sikap AS terhadap Putin “mengeras hingga derajat luar biasa” dan pemerintahan saat ini memandangnya sebagai “otokrat narsistik”. Zbigniew Brzezinski, penasehat keamanan nasional Jimmy Carter, menuding Putin “megalomania narsistik”. Financial Times menyebut Olimpiade Sochi sebagai “penghormatan diri narsistik Putin”.

Foto-foto sang presiden Rusia yang sedang menyelam scuba, menerbangkan pesawat, menyetir mobil balap, memamerkan keterampilan beladiri, dan bertelanjang dada di atas kuda justru menyokong pandangan ini dan membangkitkan tanggapan bernada olokan: Putin seorang narsis.

Tapi akuratkah melukiskan Putin sebagai seorang narsis dalam pengertian klinis? Bisakah pemahaman akan akar psikologis narsisme membantu kita memperoleh wawasan lebih dalam tentang orang ini dan bagaimana sebaiknya kita merespon agresinya, ketimbang menggunakan cap untuk mencemoohnya?

Mungkin.

Narsisme merupakan kelainan psikologis berat yang selalu berakar dari masa kecil, di mana kehidupan keluarga ditandai dengan trauma dan kebalauan emosi. Ketika pengalaman-pengalaman paling awalnya menyimpang drastis dari apa yang normal atau diharapkan, seorang anak tumbuh dengan perasaan cacat internal menyakitkan. Dia jadi merasa bahwa ada sesuatu yang rusak dan memalukan dari dirinya, suatu “kejelekan” yang harus disembunyikan. Dia akan menumbuhkan perasaan bahwa dirinya “pecundang”. Alhasil dia mengembangkan identitas defensif untuk menyembunyikan aib bawah sadar dan untuk “membuktikan” bahwa dirinya justru pemenang. Sang pemimpin Rusia datang dari latar belakang yang mirip dengan riwayat seorang narsis.

Vladimir Putin lahir di Leningrad (sekarang St. Petersburg) pada 1952, delapan tahun pasca pengepungan yang memporak-porandakan kota itu, mengakibatkan kematian lebih dari sejuta orang. Kota tersebut menanggung luka fisik dan emosional selama berdekade-dekade kemudian. Orangtua Putin selamat dari pengepungan, tapi ayahnya lumpuh dan cacat akibat cedera yang dialami dalam sebuah pertempuran tak jauh dari Leningrad; ibunya nyaris tewas akibat kelaparan. Keluarga Putin pernah kehilangan satu putera yang meninggal semasa kecil beberapa tahun sebelum perang dimulai dan satu putera mereka yang selamat meninggal di sebuah rumah yatim piatu tak lama setelah perang berakhir. Vladimir lahir ke dalam suasana kelaparan, ketidakmampuan, dan kesedihan mendalam ini.

Mengingat usia lanjut orangtuanya (keduanya menginjak usia 41 di tahun kelahirannya) dan fakta bahwa tak ada yang ingat tentangnya sebelum dia mulai bersekolah, terdapat rumor bandel tapi tak terbukti bahwa Putin sebetulnya diadopsi di usia 9 atau 10—yang barangkali menjadi penyebab trauma masa kecil lebih lanjut. Tapi masa kecil Putin hampir pasti ditandai oleh trauma, bagaimanapun. Dalam biografi Putin terbarunya, Masha Gessen melukiskan sebuah gambaran suram kompleks Leningrad di mana keluarga tersebut tinggal, khas kota pada masa pasca perang. Ruang tangga yang hancur dan pekarangan yang bertebaran sampah. Kamar-kamar sumpek, dekil, penuh sesak. Keluarga-keluarga bertumpuk satu di atas yang lain, berbagi dan berebut dapur komunal di lorong. Leningrad pasca pengepungan adalah “tempat hina, lapar, melarat yang membiakkan anak-anak kecil hina, lapar, ganas.”

Satu detil penting lain dari biografi karangan Gessen yang menangkap kebalauan emosional lingkungan masa kecil Putin: dia menghabiskan banyak waktu bersama sepasang suami-isteri sepuh Yahudi yang tinggal di seberang lorong dan berkata kepada para penulis biografi resminya bahwa dirinya “tidak membedakan antara orangtuanya dan kakek-nenek Yahudi itu”. Ayahnya bekerja di sebuah pabrik gerbong kereta dan ibunya mengambil serangkaian pekerjaan “pematah tulang”: petugas jaga malam, tukang bersih-bersih, kuli muat truk. Meski sangat menyayangi anak mereka, orangtua ini mati-matian berusaha bertahan hidup, pengasuhan anak hampir tak ada, dan Putin melewatkan semakin banyak waktunya di pekarangan komunal di bawah, sebuah ruang yang didominasi oleh penjahat mabuk, sumpah-serapah, dan baku hantam. Dalam mitologi personal yang diciptakannya, Putin merasa bangga pernah menjadi salah satu dari penjahat-penjahat itu. Menurut Vladimir Putin: The Road to Power karangan Oleg Blotsky, teman-teman masa kecil mendukung pandangan ini.

Dalam menggali masa lalu para tokoh yang menampakkan ciri-ciri kelainan kepribadian narsistik, saya menemukan bahwa banyak dari mereka adalah pemelonco masa kecil yang mungkin juga pernah dipelonco oleh orang lain. Pemelonco adalah tipe narsis khusus yang melimpahkan atau memproyeksikan rasa cacatnya kepada korban yang dia aniaya. Saya bukan pecundang, tapi kau. Saya tidak merasa rentan dan takut, tapi kau. Meski lebih muda dan lebih kecil daripada kebanyakan mereka, Putin melawan para penjahat pekarangan dan menjadi pemelonco. Dengan watak meledak-ledak dan mudah tersinggung, Putin sering merasa dihina, seketika mengamuk dengan kekerasan. Menurut Gessen, salah satu teman masa kecilnya ingat bahwa kalau ada yang berani menghina, Putin “akan langsung menerjang orang itu, mencakarnya, menggigitnya, menjambak rambutnya—berbuat apapun agar siapapun tidak merendahkannya dengan cara apapun.”

Putin menunggang kuda di Siberia pada 2009. (Alexei Drizhinin/AP)
Putin menunggang kuda di Siberia pada 2009. (Alexei Drizhinin/AP)

Narsis pemelonco berkembang dari dirinya sendiri. Seluruh kepribadiannya mengungkap pertempuran tak kenal belas-kasih dan tiada akhir untuk menangkal aib bawah sadar dan rasa cacat internal, yang menjelaskan ketidakmampuannya untuk menerima kritik atau menolerir peremehan sekecil apapun. Guna menyangkal rasa sepele, cacat, dan rawan bawah sadar, dia memproyeksikan citra diri yang menyampaikan superioritasnya. Dia menegakkan pengaruh dan prestise dengan merendahkan orang lain dan memenuhi mereka dengan aib yang dia pungkiri. Bagi pemelonco, interaksi sosial adalah soal membuktikan dirinya pemenang dengan membuat orang lain merasa mereka adalah pecundang.

Walau riwayatnya mengindikasikan kemungkinan berakar dan tumbuhnya narsisme, adalah mustahil untuk mendiagnosa orang ini dari jauh. Tapi sementara penjahat pekarangan mengilhami ketakutan, bayangan seorang pemelonco narsistik dengan tentara besar dan gudang senjata nuklir lebih mengerikan. Inikah yang sedang kita lihat? Sebagian perilaku Putin mungkin mendukung teori narsisme—tapi selalu ada penjelasan-penjelasan yang bersaing:

  • Hasrat kentara Putin untuk menyatukan kembali bekas republik-republik Soviet mengesankan dia menyimpan fantasi akan kekuasaan tak terbatas. Tapi itu juga, minimal sebagian, merupakan tanggapan politik terhadap berpencarnya etnis Rusia di Eropa Timur pasca keruntuhan Uni Soviet.
  • Dia menampakkan kesulitan menolerir kritik, boleh jadi karena kebanggaannya mudah terluka. Tapi itu juga merupakan metode untuk mempertahankan kendali pemerintahannya yang memiliki preseden kuat dalam sejarah Soviet dan Rusia.
  • Invasinya atas Ukraina bisa dipandang sebagai langkah seseorang yang merasa berhak memiliki apa yang dia mau. Tapi itu boleh jadi siasat politik kepala dingin yang ditujukan untuk memastikan dominansi regional dan kemampuan Rusia dalam menantang Barat.
  • Semua foto aksi itu boleh jadi merupakan gejala citra diri megah (grandiose self-image). Tapi mungkin dia sekadar melepas kemeja karena cuaca hari itu panas.

Sementara itu, banyak dari perilaku narsistik Putin mengungkapkan sikap yang dimiliki oleh banyak rekan senegaranya. Sebagian besar orang Rusia menoleh balik ke era Soviet dengan nostalgia; mereka merasa terhina oleh hilangnya kekuasaan dan prestise yang datang bersama bubarnya USSR dan mengagumi presiden mereka atas sikap berani menghadapi Barat. Menurut jajak pendapat resmi, mayoritas besar orang Rusia menyetujui cara Putin menangani krisis di Ukraina serta pencaplokan Crimea. Tingkat persetujuan untuknya saat ini bercokol pada angka menakjubkan: 80%. Sebagai suara rakyatnya, Vladimir Putin menawarkan untuk membalas luka-luka mereka dan memulihkan rasa kebanggaan mereka.

Presiden Obama mungkin ingin menonjolkan rasa percaya diri di hadapan agresi Putin, tapi itu bisa ditangkap seolah Obama berkata kepada Putin bahwa Putin pecundang.
Tapi tetap, menerapkan pemahaman narsisme lebih dalam pada pemahaman kita tentang Putin bisa sangat berguna. Diplomasi, bagaimanapun juga, selalu berlangsung dalam konteks ketidakpastian, dan mengasumsikan Putin seorang narsis mungkin dapat membantu otoritas kebijakan luar negeri AS mengurangi resiko dalam berurusan dengannya.

Sebagai contoh, kalau betul kita sedang berurusan dengan seorang narsis, mungkin masuk akal untuk menghindari pembangkitan rasa aib, agar tidak memancing respon defensif sebagai pembalasan. Dalam hal ini, pernyataan Presiden Obama pada konferensi pers 25 Maret di The Hague boleh jadi bukan pendekatan terbaik. Apapun kesan kekuasaan dan kepercayaan diri yang hendak dia sampaikan, penyebutan Rusia sebagai “kekuatan regional yang sedang mengancam beberapa tetangga dekatnya—bukan karena kekuatan, tapi karena kelemahan” adalah jenis pernyataan yang akan dirasa menghina bagi seorang narsis. Presiden Obama mungkin ingin menonjolkan semacam kepercayaan diri acuh tak acuh di hadapan agresi Putin, tapi itu bisa ditangkap seolah Obama berkata kepada Putin bahwa Putin pecundang. Bila demikian, resikonya adalah Putin mengambil langkah-langkah drastis, didukung oleh negara yang juga mendambakan kemuliaan dan pelepasan diri dari aib, untuk membuktikan Obama salah.
Putin mungkin ya atau mungkin bukan narsis klinis, tapi mungkin bijak memperlakukan dia seperti seorang narsis klinis.

Tentang penulis

Joseph Burgo, Ph.D., adalah psikoterapis dan pengarang Cinderella: A Tale of Narcissism and Self-Harm, Why Do I Do That?, dan The Narcissist You Know. Dia sudah menulis untuk After Psychotherapy dan Psychology Today.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.