Kenapa Donald Trump Percaya Teori Konspirasi? Berikut Adalah Analisa Kejiwaannya

Oleh: Sharon Begley
8 Maret 2017
Sumber: STAT News

State of (Trump’s) Mind memeriksa psikologi di balik pernyataan dan tindakan sang presiden.

Donald Trump

Dalam sebuah cuitan pada Sabtu pagi yang kini terkenal buruk, Presiden Trump menuding mantan Presiden Obama menyadap Trump Tower di New York City, tempat Trump tinggal dan tempat Trump Organization bermarkas.

Ngeri! Baru tahu bahwa Obama “menyadap” saya di Trump Tower sesaat sebelum kemenangan. Tak ditemukan apa-apa. Ini McCarthyisme!
— Donald J. Trump (@realDonaldTrump) March 4, 2017

Saya bertaruh seorang pengacara hebat bisa membuktikan fakta bahwa Presiden Obama menyadap telepon saya pada bulan Oktober, persis sebelum Pemilu!
— Donald J. Trump (@realDonaldTrump) March 4, 2017

Cetusan:

Trump tidak menjelaskan apa yang mendorong badai cuitannya, tapi akhir pekan lalu, sebuah acara radio konservatif dan Breitbart News mengklaim Obama menyadap Trump, tanpa mengutip bukti riil apapun atas klaim tersebut. Obama, para mantan ajudannya, dan Direktur FBI James Comey telah menyangkal terjadi penyadapan.

Sains:

Rangkulan presiden terhadap gagasan belum terbukti ini cocok dengan riwayatnya, menggembar-gemborkan teori konspirasi yang tak ditunjang oleh bukti: misalnya klaim bahwa jutaan imigran tak berdokumen memberikan suara dalam pemilu November, atau bahwa Obama lahir di luar AS. Sebuah badan penelitian luas memeriksa ciri-ciri psikologis orang yang mempercayai teori-teori konspirasi, contohnya bahwa CIA biang keladi wabah AIDS atau bahwa pembantaian sekolah Newtown, Connecticut, pada 2012 diorganisir.

“Orang-orang di ekstrim-ekstrim politik lebih mungkin untuk mempercayai teori konspirasi,” kata psikolog Jan-Willem van Prooijen, dari VU Amsterdam di Belanda, yang mempelajari kepercayaan demikian. “Mereka umumnya punya tingkat ketidakpercayaan tinggi terhadap pemerintah dan apa yang dilakukan penguasa.” Seperti pakar-pakar lain yang STAT wawancarai, dia belum memeriksa Trump. Dia berbicara secara umum mengenai apa yang terungkap dari perilaku sang presiden misalnya, berdasarkan studi-studi, tentang pemikiran dan emosi yang menggerakkan seseorang.

Riset juga menemukan bahwa kepercayaan konspirasi lebih umum di antara orang-orang berciri kepribadian tertentu. “Agreeableness (ketersetujuan)”, contohnya, didefinisikan sebagai tenggang rasa, percaya, kesediaan berkompromi, dan peduli soal bergaul akur dengan orang lain. Orang-orang yang mencetak skor rendah pada ukuran ciri ini cenderung mencari-cari alasan untuk berkelahi dan melihat musuh di mana-mana.

Rasa harga diri yang rapuh juga mendorong orang-orang untuk mencari penyebab atas masalah mereka di luar perbuatan mereka sendiri, termasuk pada komplotan rahasia jahat. Ketika orang-orang merasa peristiwa ada di luar kendali mereka dan tak punya “rasa keperantaraan” kuat, yaitu perasaan bahwa mereka mengendalikan nasib mereka sendiri dan mampu mewujudkan sesuatu, teori konspirasi menawarkan penjelasan menarik. Satu jalan untuk memulihkan rasa keperantaraan adalah menegaskan bahwa Anda tahu apa yang sedang terjadi dan orang lain tidak.

Meski terasa paradoks bahwa orang paling berpengaruh di dunia menyangsikan kemampuannya untuk mewujudkan sesuatu, Trump geram oleh [putusan] pengadilan yang menghadang pelarangan imigrasi dan dikabarkan marah besar ketika Jaksa Agung Jeff Sessions mundur dari penyelidikan hubungan antara pegawai kampanye Trump dan Rusia. Rasa tak berdaya dan frustasi dan perasaan bahwa peristiwa-peristiwa semakin lepas kendali mengembangbiakkan kepercayaan konspirasi, demikian menurut riset.

“Salah satu hal yang menggelisahkan Tn. Trump tentang jabatan presiden adalah bahwa dia tak bisa mengendalikannya,” kata psikolog Dan McAdams dari Universitas Northwestern. “Itu tidak seperti menjadi CEO sebuah perusahaan swasta keluarga. Dia jadi gila karena tidak bisa sekadar mengangkat tangan dan berkata, ‘Wujudkan ini.’”

Kepercayaan konspirasi dalam menghadapi kemunduran terutama lebih mungkin pada orang-orang dengan narsisme tinggi, ciri yang psikolog jumpai paling umum pada diri Trump. Ketika rasa superioritas pribadi seorang narsis “terkikis”, kata van Prooijen, “dia mencari kambing hitam.” Pada seseorang yang “perlu terus merasa bahwa dirinya superior dibanding orang lain,” kata psikiater Dr. Lance Dodes, pensiunan Harvard Medical School dan berpraktek di Beverly Hills, California, “setiap tantangan akan dihadapi dengan reaksi kemarahan hebat. Dalam kondisi itu dia mungkin percaya orang-orang sedang berkonspirasi terhadapnya karena pengalaman emosionalnya mengatakan dia sedang diserang.”

Sikap negatif terhadap pihak berwenang membuat orang-orang lebih mungkin untuk mempercayai kemungkinan terburuk para penguasa. Begitu pula sinisme hebat terhadap politik, misalnya bahwa itu merupakan “rawa” yang harus “dikuras”—sebagaimana Trump katakan—dan “kebanggaan berlebihan akan negara mereka, pemikiran bahwa negara mereka lebih baik dari semua negara lain,” kata van Prooijen.

Atau, gila seperti rubah:

Orang luar tak bisa tahu apakah perilaku Trump berakar dari faktor-faktor kejiwaan yang disimpulkan para peneliti ataukah dari siasat yang telah diperhitungkan. Bila memang siasat, maka presiden baru saja menderita banyak kemunduran, contohnya pengunduran diri Sessions [dari penyelidikan kasus] dan hambatan tiada henti menuju pencabutan Obamacare yang sudah dijanjikan. Trump yang dikabarkan geram mungkin cuma ingin mengalihkan arah pembicaraan.

Dan itu berhasil: acara-acara talk show Minggu dipenuhi diskusi soal tuduhan penyadapan dari Trump, bukan perkembangan kasus Rusia.

Tentang penulis

Sharon Begley adalah Penulis Senior yang meliput sains dan penemuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s