George W. Bush Mengidap Kompleks Mesianisme

Oleh: Michael Ortiz Hill
4 Januari 2003
Sumber: CounterPunch

“Kita diisap oleh kekuatan-kekuatan yang hampir tidak kita pahami,” tulis W.H. Auden. Kekuatan-kekuatan apa yang mengisap kita sekarang selagi Amerika kembali berputar menuju perang?

George W. Bush memang alat mainan kekuatan-kekuatan geopolitik minyak, tapi tampaknya dia rentan terhadap urusan tipikal lain yang lebih gelap lagi. Izinkan saya blak-blakan. Orang ini suka berdelusi dan bentuk delusinya secara spesifik berkeyakinan dan bertujuan apokaliptik. Bahwa Bush menyerang begitu banyak sistem vital di begitu banyak front, mulai dari kebijakan luar negeri sampai lingkungan, ini mungkin terasa membingungkan dari sudutpandang realpolitik tapi menjadi terang-benderang dari segi pandangan apokaliptik yang dianutnya. Semua sistem diharuskan runtuh agar Mesias bisa datang dan Bush, kelihatannya, telah memikul peran orang yang mewujudkan ini.

Pendeta Billy Graham mengajari Bush untuk hidup mengantisipasi Kedatangan Kedua, tapi pertemanannya dengan Dr. Tony Evans-lah yang membentuk pemahaman politik Bush tentang bagaimana bertingkah laku di zaman apokaliptik. Dr. Evans, pastor sebuah gereja besar di Dallas dan pendiri gerakan Promise Keepers, mengajari Bush “bagaimana dunia seharusnya dilihat dari sudutpandang ilahi”, menurut Dr. Martin Hawkins, asisten Evans.

S.R. Shearer dari Antipas Ministries menulis, “Kebanyakan pemimpin Promise Keepers memeluk doktrin ‘akhir zaman’ (eskatologi), yang dikenal sebagai ‘dominionim’. Dominionisme menggambarkan perebutan kekuasaan (fana) duniawi oleh ‘umat Tuhan’ sebagai satu-satunya sarana agar dunia bisa diselamatkan… Ini adalah eskatologi yang dicerna oleh Bush; sebuah eskatologi yang dengannya dia sedikit demi sedikit (dan enteng) mulai memandang dirinya sebagai agen Tuhan yang telah dipanggil oleh-Nya untuk ‘memulihkan dunia ke dalam kendali Tuhan’, sebuah ‘kapal terpilih’, kira-kira begitu, untuk menghadirkan Pemulihan Segala Sesuatu.” Shearer menyebut delusi ini “kepemimpinan Mesianik”—dengan kata lain merampas peran yang biasanya diatributkan pada Mesias.

Dalam Bush at War, Bob Woodward menulis, “Kebanyakan presiden memiliki harapan tinggi. Sebagian memiliki visi megah tentang apa yang akan mereka capai, dan dia kokoh ada di kubu itu.”

“Untuk menjawab serangan-serangan ini dan membebaskan dunia dari kejahatan,” kata Bush. Dan lagi-lagi, “Kita akan mengekspor kematian dan kekerasan ke empat penjuru bumi demi mempertahankan bangsa besar ini.” Visi megah. Woordward berkomentar, “Presiden sedang mengungkapkan misinya dan misi negara dalam visi agung God’s Master Plan.”

Dalam dominionisme kita bisa melihat sumber teologis monomania Bush. Jangan terkecoh oleh fakta bahwa dia kalah popular election dengan selisih setengah juta suara, bahwa Kepala Staf Gabungan di Pentagon begitu cemas dengan rencananya untuk menginvasi Irak sampai-sampai mereka membocorkan keberatan bulat, bahwa dia secara sistematis mengasingkan sebagian besar dunia, bahwa kira-kira 70% warga Amerika tetap tak yakin akan ancaman Saddam Hussein dan 70% keberatan dengan perang jika itu menimbulkan korban signifikan dari pihak Amerika—semua ini kurang relevan. Dia percaya mandat aksinya datang dari Tuhan.

Sebagai manusia kita hidup dalam cerita. Beberapa cerita, seperti cerita apokalips, berumur ribuan tahun. Teks kitab suci yang memberitahu Bush pemahaman dan pemeranan Akhir Zaman (Wahyu 19) melukiskan Kristus datang kembali sebagai Pembalas Surgawi. Wahyu adalah satu-satunya kitab Perjanjian Baru yang menjustifikasi kekerasan jenis apapun, dan ini dibatasi dengan: Kristus sendiri agen pembunuhan masal.

“Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: Yang Setia dan Yang Benar. Ia menghakimi dan berperang dengan adil… Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: Firman Allah… Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa… Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya: Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar, supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua kuda dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar.”

Demikianlah “semarak kedatangan Tuhan”. Kebenaran, pembantaian, dan ekstase burung bangkai. Di sebuah dunia yang hancur-lebur, Mesias membunuh antikristus dan menciptakan “langit baru dan bumi baru”. Yang mati dihakimi, Kristiani diselamatkan, sisanya dikutuk dengan siksaan kekal. Yerusalem Baru didirikan dan Tuhan memerintahnya dengan “tongkat besi”.

Bisa dipahami bahwa Bush tertarik secara harfiah dan teguh, sadar ataupun tidak, kepada pemeranan skenario tersebut, sebagaimana dia imani, demi Tuhan. Bahkan kebijakan tak kenal ampunnya di Timur Tengah menyiratkan sebanyak itu.

Sungguh mencemarkan kedalaman tradisi Kristen jika kita tidak mencatat bahwa kitab Wahyu adalah teks menyimpang. Gara-gara pertaliannya dengan bid’ah Montanist (yang, seperti orang-orang fundamentalis kontemporer, menganggapnya harfiah ketimbang kiasan), itu dijadikan kitab injil dengan sangat enggan tiga abad sesudah kematian Kristus. Secara tradisional diatributkan pada St. Yohanes, kebanyakan cendekiawan Alkitab kini mengakui gaya sastra dan teologinya tidak punya banyak kesamaan dengan injil Yohanes atau surat-suratnya dan kemungkinan ditulis sesudah kematiannya. Martin Luther merasa Tuhan yang penuh dendam dalam kitab Wahyu tidak cocok dengan injil-injil dan menurunkan posisinya ke lampiran terjemahan Jerman Perjanjian Baru miliknya, alih-alih dimasukkan ke dalam isi injil. Semua reformis Protestan, kecuali Calvin, menganggap milenialisme apokaliptik adalah bid’ah.

Tapi kitab Wahyu juga merupakan teks menyimpang karena ia tercabut dari akarnya, yang jauh dari Kristen. Ia merupakan varian terakhir sebuah cerita yang menyebar di dunia kuno: kekalahan kaum liar dan tak beradab oleh sebuah tatanan superior yang di atasnya akan didirikan Dunia Baru. Dua ribu tahun sebelum kitab Wahyu melukiskan Kristus membunuh antikristus dan menyusun Yerusalem Baru, Marduk membunuh Tiamat dan mendirikan Babilonia.

Mitos pagan ini, didaur ulang sebagai teks Biblikal yang tak kristiani, menemukan kepercayaan baru di abad 19 ketika John Darby praktisnya membangkitkan bid’ah Montanist: menanaminya dengan literalisme menggebu-gebu. Gemar pada penglihatan visi (dia memandang Inggris sebagai salah satu dari sepuluh suku Israel), Darby meninggalkan kependetaan Gereja Irlandia dan mengajarkan kitab Wahyu sebagai nubuat maupun sejarah yang segera terjadi. Dalam hal ini dia meresmikan sebuah garis silsilah di mana para mentor Bush, Reverend Billy Graham dan Dr. Tony Evans, adalah pewaris terbaru. Kitab Wahyu sangat disukai oleh fundamentalis Muslim, dan seperti kompatriot Kristen, mereka juga bergairah dengan pembebasan melalui apokalips. Fundamentalis Yahudi tentu saja tidak percaya pada kitab Wahyu tapi punya kepentingan bersama dengan Kristen Kanan. “Ini adalah situasi amat tragis di mana fundamentalis Kristen, kelompok-kelompok tertentu yang fokus pada Armagedon dan Pengangkatan dan peran sebuah perang antara Muslim dan Yahudi dalam menyebabkan Kedatangan Kedua, tersangkut dalam kegilaan berdua (folie à deux) dengan ekstrimis Yahudi,” kata Ian Lustick, pengarang For the Land and the Lord: Jewish Fundamentalism in Israel. Tradisi Yahudi-Kristen-Islam (ya, ini satu tradisi) sedang digiring oleh golongan pinggirnya ke dalam jurang tak berdasar dan kita semua ikut terseret.

Dunia sudah disiapkan untuk api tapi elemen krusial adalah Pemerintahan Bush. Tak pernah dalam sejarah Kristendom ada momen ketika elemen menyimpang ini membawa sesuatu seperti kredibilitas dan kekuasaan politik yang dibawanya sekarang.

Tentang penulis

Michael Ortiz Hill adalah pengarang Dreaming the End of the World (Spring Publications, 1994) dan (bersama Augustine Kandemwa) Gathering in the Names (Spring Journal, 2002). Pengiring esai ini, The Looking Glass, diposting di www.gatheringin.com. Dia dapat dihubungi di michaelortizhill@earthlink.net.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.