Fidel Castro, Komunis Munafik yang Hidup Bagai Miliarder

Oleh: Guy Adams
26 Mei 2014
Sumber: www.dailymail.co.uk

Berjarak perjalanan perahu singkat dari kota pantai Cienfuegos, di pertengahan pesisir selatan Kuba, terdapat sebuah pulau tropis terpencil bernama Caya Piedra.

Kemewahan rahasia: diktator Kuba Fidel Castro tersenyum sambil mengisap cerutu dalam sebuah konferensi pers tahun 1978.

Dikelilingi perairan hangat biru-hijau, dengan pepohonan kelapa, pantai pasir putih, dan terumbu karang utuh, surga Karibia sepanjang dua mil ini merupakan wilayah pribadi seorang pria yang amat kaya.

Penduduk setempat menjulukinya El Comandante – Sang Komandan – dan dia suka berlabuh di Caya Piedra di atas pesiar mewahnya, Aquarama II, yang dilengkapi bahan kulit berwarna krim dan kayu Angola langka.

Selalu diiringi oleh sepasukan pembantu pribadi, yang siap dipanggil 24 jam sehari, 7 hari seminggu, untuk menghidangkan anggur putih dingin dan kerang eksotis, dia dan teman-temannya mengisi hari-hari dengan membaca, menyelam, dan menangkap ikan.

Para tamu selebriti yang pernah menikmati keramahtamahan mewah di sana meliputi Gabriel Garcia Marquez, novelis Kolombia yang meninggal bulan lalu, dan mendiang penjelajah air asal Prancis, Jacques Cousteau.

Seperti halnya setiap orang yang datang, mereka terpikat oleh keindahan dan pesona santai pulau tersebut.

Jika awan mencoreng cakrawala, maka sang tuan rumah multijutawan akan berhenti dari menikmati kehidupan tingkat atas ini untuk mengerjakan urusan penting: menjalankan negara.

Karena pemilik Caya Piedra tak lain adalah Fidel Alejandro Castro, diktator sayap Kiri yang merebut kekuasaan atas Kuba dalam kudeta komunis 55 tahun silam.

Kini berumur 87, pengaku “Tokoh Revolusi Rakyat” ini—yang menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul, di tahun 2008—di atas kertas menjadi tuan tanah aneh atas sepotong real estat nomor wahid ini.

Padahal, dia telah menghabiskan waktu berdekade-dekade untuk mengolah citranya sebagai pekerja rakyat yang sederhana.

Bahkan, Partai Komunis Kuba menyebut Senor Castro sebagai pelayan militer pengunyah cerutu tapi rendah hati, yang berdedikasi memajukan kepentingan masyarakat di sebuah negara di mana mayoritas dari 11 juta penduduknya hidup dalam kemiskinan hina.

Propaganda acapkali jauh dari kenyataan. Dan sebagaimana ditunjukkan melalui kapal pesiar, pulau pribadi, dan staf rumahtangganya, pengkritik kawakan keberlebihan kapitalisme ini tidak selalu mengamalkan apa yang dikhotbahkannya.

Bahkan, gaya hidup Castro ternyata dekaden—rahasia yang dibongkar secara detil oleh mantan pengawalnya, Juan Reinaldo Sanchez.

Tokoh rakyat? Gestur Fidel Castro saat berpidato dalam parade May Day di Revolution Square, Havana, 1 Mei 2005.

Dalam memoar 338 halaman, berjudul The Hidden Life of Fidel Castro (diterbitkan di Prancis oleh Michel Lafon dan dikarang bersama Axel Gyldén), Sanchez, pegawai selama 20 tahun, mengangkat tabir keberlebihan mewah yang dinikmati oleh sang otokrat dan lingkaran dalamnya.

Buku tersebut melukiskan seorang pria yang terobsesi dengan kekuasaan dan uang, yang menyebut dirinya pahlawan kelas pekerja seraya hidup mewah bak raja abad pertengahan.

Namun, tak seperti raja berhias emas, pemimpin Kuba ini—oh ya, dia didukung oleh para apolog Inggrisnya, yaitu Ken Livingstone, Arthur Scargill, dan mendiang Tony Benn—berhasil merahasiakan kehidupan mewahnya rapat-rapat.

Untuk itu, seperti diktator manapun, dia boleh berterimakasih kepada para agen negara keamanan yang sama-sama opresifnya dengan negara-negara sahabat diktatoris di Zimbabwe, China, dan bekas Uni Soviet.

Sanchez adalah salah satu penjaga keamanan Castro dari 1977 s/d 1994, menyertainya dalam perjalanan ke luar negeri untuk menemui setiap orang, mulai dari Paus hingga presiden AS, dan menyaksikan langsung kemampuan bosnya dalam memanfaatkan Kuba sebagai tanah feodal pribadi.

Fidel Castro bersama Presiden Venezuela Hugo Chavez (tengah) dan adiknya, Raul, yang diserahi kekuasaan pada 2008.

Contoh, dia mengenang suatu hari khas yang dihabiskan dengan menombak ikan di lepas pantai Cayo Piedra: “Saya tak bisa melukiskannya selain menyamakannya dengan perburuan raja Louis XV di hutan-hutan sekitar Versailles.”

Setelah Castro bangun di tengah hari, bujang-bujang yang berlutut akan memakaikannya peralatan selam, sebelum menemaninya ke perahu motor mengkilat.

Di sana, para pembantu pria siap memenuhi setiap permintaannya, entah itu menuangkan wiski es kesukaannya (Chivas Regal berumur 12 tahun), atau menyiapkan makanan ringan favoritnya, udang langoustine panggang.

Kolega lainnya bangun di waktu fajar untuk menjelajah perairan sekitar, mencari tempat mancing terbaik.

Sementara majikan mereka memancing, para penjaga keamanan (termasuk Sanchez) bersiaga dengan Kalashnikov dan meriam seruit untuk mengusir hiu dan barakuda yang penasaran.

Industrialisasi Stalinis selama berdekade-dekade, digabung dengan pariwisata masal, telah membuat sebagian besar Kuba tercemar berat, tapi Cayo Piedra, di selatan Teluk Babi, di mana CIA mensponsori invasi atas pulau tersebut pada tahun 1961 namun gagal, dilukiskan oleh Sanchez sebagai “Taman Eden”.

Mayoritas orang Kuba tak tahu-menahu eksistensi pulau pribadi ini, apalagi dimiliki oleh Castro. Mengingat tak adanya pers bebas di negara itu, tidak mungkin mereka akan mencaritahu tentangnya. Tidak mungkin pula mereka tahu eksistensi permata kerona lain dalam portofolio properti mantan pemimpin mereka, yang menurut Sanchez mencapai 20 rumah.

Kediaman istananya di daratan utama mencakup sebuah estat Havana lengkap dengan gelanggang bowling di atas atap dan lapang basket dalam ruangan, dan sebuah villa pantai di sebelah marina pribadi, dilengkapi kolam, Jacuzzi, dan sauna.

Castro cinta olahraga. Para pengawalnya diharuskan menyusun tim “merah dan biru” di lapang basket, tulis Sanchez: “Tentu saja setiap orang bermain untuk Fidel—tak diragukan dia tak boleh kalah. Saya ingat, suatu hari dia bermuram durja pada saya, karena alih-alih mengumpan kepadanya, saya memasukkan bola.”

Untuk sampai ke properti Castro yang paling menakutkan, Anda harus berkendara ke barat Havana menuju bekas desa nelayan bernama Jaimanitas.

Di sini terdapat Unit 160, bangunan mirip benteng di sebuah kompleks yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Punto Cero, yang dilukiskan sebagai bunker milik diktator klasik.

Castro (tengah) merayakan kemenangan Gerakan Revolusi Kuba atas rezim Fulgencio Batista pada 1959.

Selain menjadi tempat penyembunyian senjata untuk pengawal pribadi Castro, ini juga merupakan pusat syaraf berbagai kegiatan rahasia, dari penyiksaan hingga pengamatan. Tapi properti ini juga memiliki fasilitas untuk memproduksi es krim kualitas tinggi dan serbat untuk Castro, “pecinta makanan” yang tak tahan dengan makanan sampah totaliter yang masih dikocok untuk kaum proletarnya.

Setelah bertahun-tahun menjadi target lebih dari 600 upaya pembunuhan oleh CIA, Castro dirasuki ketakutan diracun, sehingga memastikan semua makanan dan minumannya berasal dari wilayah setempat.

Kehati-hatiannya sampai membuatnya mempunyai sapi pribadi, yang memasok semua susu yang diminumnya.

Setiap tetes air yang dia minum datang dari sumur-sumur taman, sedangkan sayurannya harus organik. Ayam-ayam yang tidak dikandangi berlarian di estat-estat Castro, sementara teman-teman kaya di luar negeri rutin mengirimkan makanan mewah. Saddam Hussein, contohnya, suka mengirim berwadah-wadah selai ara, sementara kiriman anggur merah datang dari Aljazair.

Bagasi limosin Mercedes-Benz lapis baja milik Castro selalu berisi bekal darurat makanan kelas atas ini, bersama dengan setumpuk kecil senjata, selain Kalashnikov yang disimpan di kaki Castro setiap bepergian, dan ditaruh di ranjang setiap tidur.

Setiap armada mobil Mercedes pribadi Castro dilucuti lalu dirakit ulang setibanya dari Jerman, untuk memastikan tidak mengandung mikrofon atau bom.

Castro punya lima putera dari isteri keduanya, Dalia, tapi rutin bertemu gundik-gundik di sebuah properti dekat Unit 160, yang dikhususkan untuk perselingkuhan. Di masa mudanya, dia diyakini memiliki ratusan kekasih gelap, dan menghasilkan total sekurangnya sembilan anak—fakta-fakta yang belum boleh disebutkan oleh media milik negara.

Para kekasihnya diduga berkisar dari aktris Italia Gina Lollobrigida hingga penari klab malam bawah umur tak bernama, yang kemudian mengungkap bahwa Castro selalu merokok selama bersetubuh.

Setelah menua, rupanya Castro menjadi pengguna tetap Viagra.

Fidel Castro, sebagai pemimpin muda Gerilya anti-Batista (tengah) sewaktu beroperasi di Pegunungan Kuba Timur, Maret 1957.

Saat sedang tidak memuaskan amukan libidonya, hiburan favorit Castro, kata Sanchez, adalah menonton War and Peace karya Tolstoy versi Rusia berdurasi lima jam berulang-ulang di biskop pribadi.

Dia bahkan punya petugas proyektor “resmi” yang ditunjuk oleh Kementerian Dalam Negeri, untuk menyertai semua staf lainnya, meliputi tiga sopir, dokter-dokter pribadi, satu kepala pelayan, dan satu fotografer.

Dua anggota tim pengawalnya dipilih khusus karena mereka harus punya golongan darah yang sama dengan Castro, jadi bisa mendonor dalam keadaan darurat.

Bertampang mirip, Silvino Alvarez memakai janggut palsu saat menggantikan Castro, menghadiri pertemuan bila sang diktator jatuh sakit, tidak mau pergi, atau takut dengan upaya pembunuhan.

Melukiskan Castro sebagai “maestro disinformasi”, Sanchez menyebut klaim otokrat praktis ini sebagai musuh nilai-nilai Barat hanyalah kepura-puraan.

Mengaku sebagai fungsionaris negara yang “sederhana” dengan upah pas-pasan, nyatanya Castro memiliki kekayaan sekurangnya £100 juta—belum termasuk aset properti. Tapi dia murka jika kekayaan ini diberitakan.

Di tahun 2005 dan 2006, ketika Forbes menyebut Castro sebagai salah satu kepala negara terkaya di dunia—setingkat dengan Ratu Inggris dan Pangeran Albert dari Monaco—dia menuduh majalah tersebut “berbuat keji” dalam sebuah pidato kecaman terhadap ketamakan negara-negara macam Inggris dan AS.

Sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, Perdana Menteri, Sekretaris Pertama Partai Komunis, dan Panglima Tertinggi angkatan bersenjata Kuba, dia ingin dikenal sebagai “Pemimpin Maksimum”, bukan lalim pemalas nan tamak.

Sanchez, yang kini berumur 65, menghabiskan 17 tahun bekerja untuk Castro sebelum merasa bosan dengan pekerjaannya dan meminta izin untuk berhenti. Castro menanggapi dengan menuduhnya tidak setia dan membuinya selama dua tahun antara 1994 s/d 1996.

Hari ini, Sanchez mengenang bagaimana dirinya dahulu memandang sosok karismatik Castro sebagai “seorang dewa”, seraya mengaku: “Saya bersedia mati untuknya.”

Tapi kini dia menyatakan, orang yang dikaguminya sejak kecil itu telah menjadi “maestro dalam gaya tuan tanah abad 19”.

“Baginya, kekayaan merupakan alat kekuasaan, kelangsungan politik, perlindungan pribadi,” tinjaunya.

“Fidel Castro juga menyatakan bahwa revolusi tidak memberinya istirahat, tak ada waktu untuk bersenang-senang, dan bahwa dia tak ambil peduli dengan, bahkan memandang rendah, konsep liburan kaum borjuis. Dia bohong.”

Setelah satu dekade menundukkan kepala, Sanchez melarikan diri ke AS sebagai orang pengasingan pada 2008, di mana dia kini sesekali bekerja sebagai penasehat keamanan di Fort Lauderdale, Florida.

Sementara itu, Castro menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul, di tahun yang sama, menjamin dinasti Castro akan terus tumbuh subur dengan tak adanya partai oposisi sah.

Castro yang asli dan sohor kini menjadi petapa bayangan yang hampir menghilang dari penglihatan publik.

Dia terus menikmati makanan terbaik dan perawatan medis, tapi menjalani hidup yang agak datar, semangat tingginya dibatasi oleh penyakit dan usia. Dan rakyatnya masih menganggapnya sebagai komunis setia sebagaimana selalu dia tegaskan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s