“6 Cewek” Xi Jinping Sebabkan 5 Penjual Buku Menghilang

5 Januari 2016
Sumber: Quartz

Kehidupan asmara Xi Jinping merupakan fokus sebuah naskah belum terbit yang diyakini menjadi penyebab di balik raibnya lima orang yang mempunyai hubungan dengan toko buku politik di Hong Kong, klaim seorang akademisi dan politisi Hong Kong.

Anda tak bisa temukan buku-buku ini di seberang perbatasan.
(Reuters/Bobby Yip)

Judul buku itu sedang didiskusikan oleh penerbit sebelum terjadinya penculikan, kata Willy Wo-lap Lam, asisten profesor di Chinese University of Hong Kong, kepada Quartz, mengutip sebuah sumber di Mighty Current, perusahaan penerbitan yang memiliki toko buku tersebut.

Dua pilihannya adalah: The Lovers of Xi Jinping atau Xi Jinping and His Six Women, tutur Lam, tapi keputusan belum dibuat. Lam, pemantau kawakan China, juga merupakan pengarang seri buku yang menganalisa para pemimpin tertinggi China. Terbitan terbarunya adalah Chinese Politics in the Era of Xi Jinping.

Buku ini mengupas kehidupan Xi antara 1985 s/d 2002 saat memegang berbagai jabatan resmi di provinsi Fujian selatan, termasuk 15 tahun pertama pernikahannya dengan Peng Liyuan pada 1987, kata Lam.

Pada hari Minggu (3 Januari), di sebuah konferensi pers, legislator Hong Kong Albert Ho mengungkapkan bahwa sebuah buku yang akan terbit tentang seorang “pacar” Xi beberapa tahun silam berada di balik raibnya orang-orang itu.

Tidak jelas apakah buku itu menuding Xi punya hubungan di luar nikah. Sebagai bagian dari pemberangusan korupsi sejak menjabat pada 2012, Xi telah memimpin kampanye anti-korupsi yang menjadikan perzinaan sebagai dasar untuk pembuangan [anggota] dari Partai Komunis. Oktober lalu, aturan tersebut diubah untuk melarang “hubungan seksual tak patut dengan orang lain”, sebuah penyesuaian yang menurut kantor berita negara Xinhua menjadikan “regulasi semakin ketat”.

Sebagai penyanyi lagu rakyat kenamaan China, Peng jauh lebih tenar dari Xi saat mereka menikah, ungkap Lam. Peng masih bermukim di Beijing sewaktu Xi berdinas di Fujian, dan pasangan tersebut tidak hidup bersama selama lebih dari satu dasawarsa sampai Xi dipromosikan menjadi pemimpin partai di provinsi tetangga Zhejiang, ungkap Lam.

Raibnya Lee Boo (pegawai di Causeway Bay Bookstore) pekan lalu mendatangkan perhatian internasional pada kasus misterius lima orang yang hilang. Para politisi demokratis Hong Kong, termasuk Ho, yakin mereka diculik oleh petugas keamanan China daratan.

Hong Kong dijamin kebebasan berbicara di bawah Basic Law yang ditulis sebagai bagian dari penyerahan kota tersebut dari Inggris kepada China, dan penerbit-penerbit kecil setempat punya tradisi menerbitkan buku-buku yang kritis terhadap Partai Komunis China. Kualitas dan akurasi “buku-buku terlarang” ini bervariasi; sebagian cuma fabrikasi gosip, dan sebagian lain terbukti benar. Meski demikian, mereka populer di antara wisatawan China daratan.

Global Times, tabloid sokongan China, menyatakan dalam editorial pekan ini bahwa toko buku tersebut menjual buku-buku berisi “konten fabrikasi jahat”, yang masuk ke China daratan, menjadi sumber desas-desus politik, dan “menimbulkan pengaruh buruk sampai taraf tertentu”. Versi bahasa China dari editorial yang sama juga menuding toko buku tersebut membahayakan “kerukunan dan stabilitas” masyarakat China daratan.

Setelah menghilang, Lee dikabarkan mengirim surat kepada seorang kolega lewat faks untuk memberitahukan bahwa dirinya aman dan sedang sukarela membantu dalam penyelidikan bersama otoritas China. Pejabat Hong Kong khawatir pejabat China daratan sedang mencoba menegakkan undang-undang China daratan secara ilegal di Hong Kong, terlepas dari janji bahwa kota ini beroperasi di bawah “satu negara, dua sistem”.

Karena Lee memegang paspor Inggris, keraibannya membangkitkan ketegangan diplomatik. Inggris menanyai otoritas China dan Hong Kong perihal keberadaannya dan mendesak pemerintah Hong Kong menghormati komitmennya akan kebebasan pers. Pejabat Swedia sedang menyelidiki raibnya warga negara Swedia kelahiran China, Gui Minhai, yang memiliki perusahaan penerbitan tersebut dan telah hilang selama berbulan-bulan.

Menteri luar negeri China Wang Yi memperingatkan pada hari Selasa (5 Januari) bahwa negara-negara lain “tak berhak mencampuri” urusan di Hong Kong, dan bahwa Lee adalah “utamanya warga negara China”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s